Ada 3 kota pariwisata yang menjadi andalan negara monarki konstitusional
Kamboja, yaitu Phnom Penh sebagai ibukota negara, kawasan pantai Sihanoukville
dankompleks candi Angkor yang terkenal di propinsi Siem Reap. Sebagai destinasi
utama, akses menuju Siem Riep cukup mudah, yaitu 4 jam melalui jalan darat atau
sekitar 45 menit dengan pesawat terbang dari Phnom Penh. Ada sekitar 11
penerbangan langsung internasional ke Siem Reap, tidak jauh berbeda dengan bandara
internasional Phnom Penh yaitu 14 penerbangan.
Menginjakkan
kaki di Siem Reap segera memberikan gambaran bahwa daerah ini memiliki semangat
tak kasat mata untuk menata masa depannya. Pembangunan infrastruktur menjadi
agenda utama sehingga meski masih dalam proses, wajah masa depan daerah ini
sudah mulai terbentuk. Daerah inipun semakin menjanjikan bagi para investor,
dalam hal penyediaan jasa pariwisata, seperti hotel. Sam
Promonea, secretary of state kementrian pariwisata, menyatakan Kamboja
memang sedang giat-giatnya membangun infrastruktur untuk menghubungkan
titik-titik potensial pariwisata dengan bantuan sejumlah pihak, seperti ADB,
China, Vietnam dan lain-lain. Ditambahkannya, saat ini Kamboja memiliki lebih
dari 8000 kamar hotel dan sekitar 380 biro perjalanan.
Orang umumnya familiar dengan Angkor Wat yang terkenal. Namun Angkor Wat
sendiri sebenarnya hanya merupakan salah satu candi di kawasan Angkor. Masih
ada sejumlah candi lain yang hingga saat ini masih dalam tahap restorasi
seperti Angkor Thom (candi Bayon), Phnom Bakheng, Candi Baphuon, Terrace of
Elephant, Candi Banteay Srei yang didedikasikan kepada dewa Siwa, Candi Phnom
Krom, Candi Phnom Kulen, dll. Sehingga tak heran jika Perdana Menteri Kamboja,
Hun Sen menyatakan kompleks candi Angkor adalah simbol potensi pariwisata
Kamboja. Seiring dengan berakhirnya kekuasaan rezim Khmer Merah tahun 1999,
masalah keamanan tidak lagi menjadi penghalang bagi pembangunan, dan pariwisata
dipilih sebagai bidang yang akan memberi kontribusi besar bagi pembangunan
sosial dan pertumbuhan ekonomi. Tujuan akhirnya, tentu saja kesejahteraan
masyarakat secara keseluruhan.
Sejarah Angkor yang dulu merupakan pusat kerajaan Khmer sebelum dipindah
ke Phnom Penh cukup panjang, yaitu dari awal abad ke-9 hingga pertengahan abad
ke-14. Pendiri sekaligus penguasa Angkor pertama adalah raja Jayavarman II yang
berkuasa antara tahun 802-850. Sementara Angkor Wat dibangun oleh raja
Suryavarman II yang memerintah antara tahun1112- 1152 dan diperkirakan dibangun
sebagai kuburan bagi sang raja. Raja-raja Khmer jaman dulu mengadopsi dari
sistem monarki India yang menganut konsep dewa raja, konsep kesatuan antara
dewa dan raja, yang biasanya digunakan untuk melegitimasi kekuasaan. Konsep
dewa-raja terlihat dari dari struktur candi yang bentuknya mengerucut ke atas
seperti kuncup bunga lotus. Puncaknya merupakan lambang bersatunya kekuasaan
raja dengan kekuatan para dewa.
Pada dinding Angkor Wat bagian luar, terpahat relief batu yang
menceritakan kisah-kisah klasik India, seperti Ramayana, pemutaran lautan susu
untuk mendapatkan tirta amerta dan relief pertempuran balatentara Khmer saat
menghadapi serangan balatentara Champa.
Selain itu
juga terpahat ribuan apsara, yang berarti dewi. Terdapat sekitar 3000 apsara
disini dan jika diperhatikan dengan seksama, tak satupun apsara tersebut
memiliki kesamaan antara satu dengan yang lainnya, baik dari bentuk hiasan
rambut, busana maupun ekspresinya.
Di Angkor Wat terdapat 5 candi besar sesuai jumlah puncak Meru dan
didalamnya terdapat simbol kekuatan sang raja yaitu Lingga. Seperti juga gunung
Meru dikelilingi laut, Angkor Wat juga dikelilingi danau buatan manusia dalam
ukuran yang sangat besar, sedemikian besar sehingga dikatakan airnya sanggup
mengisi 17 ribu kolam renang ukuran olimpiade.
Dengan segala keunikan dan nilai historis yang melingkupi keberadaan
kawasan Angkor, wajar jika negara ini memilih pariwisata sebagai salah satu
pilar penyangga perekonomian Kamboja saat ini. Pariwisata memberikan kontribusi
besar bagi pertumbuhan ekonomi, mencapai 39% terhadap GDP selama tahun 2006.
Kunjungan wisman ke negara ini mengalami peningkatan secara signifikan dalam
kurun waktu 4 tahun terakhir, dari 780.000 orang pada tahun 2003 menjadi 1,7
juta orang pada tahun 2006. Tahun ini, pemerintah Kamboja bahkan mencanangkan
kunjungan 2 juta wisman. Menurut Sam Promonea, secretary of state kementrian
pariwisata, peningkatan kunjungan wisata yang cukup mencolok ini merupakan
hasil dari salah satu kebijakan pemerintah Kamboja untuk melakukan koordinasi yang
baik antara pihak pemerintah dengan swasta. Kebijakan lainnya misalnya
pemberlakuan VOA- Visa on Arrival untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung ke
negara ini.
Perlu diketahui, hingga saat
ini, candi-candi yang berada di kawasan Angkor masih dalam proses restorasi
dengan dibantu sejumlah negara dan lembaga, antara lain dari Perancis, Jepang,
UNESCO, dll. Dahulu, Indonesia juga sempat mengirimkan arkeolognya untuk
membantu sejumlah restorasi di Angkor. Dengan restorasi berkelanjutan ini
ditambah dukungan pembangunan infrastruktur, Kamboja khususnya kompleks candi
Angkor di Siem Riep akan semakin mantap memilih jalur pariwisata sebagai pilar
ekonominya. Secara geografis, letak Kamboja strategis karena berada di kawasan
Indochina berbatasan dengan Laos di utara, Vietnam di timur dan selatan, serta
Thailand dan teluk Thailand di barat dan utara. Secara ekonomis maupun politis,
posisi ini menguntungkan, terlebih jika infrastrukturnya sudah mendukung untuk
transportasi barang dan manusia.
Bukanlah hal mudah bagi
sebuah destinasi untuk mengukuhkan dirinya sebagai salah satu warisan dunia,
yang mampu merawat dan mengatur kawasan ini agar harmoni dengan masyarakat
pendukungnya. Pemerintah setempat menghadapi banyak tantangan untuk mengubah
sebuah potensi yang sarat konflik kepentingan menjadi sumber yang secara aktif
melayani kepentingan kawasan sekaligus nasional. Pemerintah kemudian membentuk
APSARA – the Authority for the Protection and Management of Angkor and the
Region of Siem Reap. Tugasnya untuk riset, perlindungan dan konservasi warisan
budaya, sekaligus pengembangan kota dan wisatawan. Dengan kata lain, kawasan
ini dikelola dengancommunity-based development dengan menetapkan
zone-zone untuk melindungi kawasan candi. Masyarakat asli tetap tinggal di kawasan
tersebut namun diluar zone yang dilindungi. Ada beberapa aturan yang
menyertainya, antara lain orang luar tidak boleh mendirikan bangunan baru dan
tanah hanya bisa dijual kepada tetangga saja. Masyarakat dididik untuk
menghargai nilai warisan budaya Khmer demi generasi-generasi berikutnya. Selain
itu, APSARA juga memberi pelatihan kerajinan tangan, menyediakan pasar untuk
menjual hasil kerajinan tersebut serta mengajak wisatawan berkunjung langsung
ke rumah-rumah pengrajin. Bahkan yang terakhir ternyata terinspirasi ketika
lembaga ini berkunjung ke Jogjakarta. Masyarakat setempat diajak menanam sayur
mayur yang kemudian didistribusikan ke hotel-hotel dan restaurant sehingga
pendapatan mereka tak hanya tergantung pada wisman yang datang ke lokasi. Hal ini
penting untuk menjaga kenyamanan wisatawan di lokasi tanpa harus menghadapi
pedagang acung yang biasanya memadati tempat wisata.

Bagaimana dengan di Indonesia? Candi Borobudur di Jawa Tengah memiliki nilai historis tak ternilai dan merupakan warisan budaya bangsa ini. Meski tidak tercantum dalam daftar World Heritage seperti halnya Angkor Wat, Borobudur tetap merupakan bukti keberadaan sebuah peradaban yang tinggi. Beberapa waktu lalu, kedua candi ini disiapkan menjadi sister temple melalui LOI – letter of intent antara Kamboja dan Indonesia (pemda Jawa Tengah) sehingga diharapkan dengan adanya kerjasama tersebut akan membuka jalan bagi dirancangnya paket tour Borobudur – Angkor Wat. Bahkan Sam Promonea, secretary of statekementrian pariwisata, menanyakan kemungkinan adanya penerbangan langsung Garuda Indonesia ke Kamboja dan sebaliknya sehingga akan semakin mempererat hubungan kedua negara dalam hal pariwisata.
Sebagai sebuah destinasi,
Angkor dan Borobudur sebenarnya memiliki potensi yang tidak jauh berbeda,
sama-sama merupakan bukti keberadaan peradaban yang tinggi di masanya dan
memiliki potensi sangat besar menjadi destinasi wisata budaya dunia. Candi
Borobudur pun dari waktu ke waktu dibenahi, hanya saja setiap upaya pembenahan
seringkali diiringi polemik. Sebagian besar terjadi karena perbedaan
implementasi proyek-proyek yang terkait dengan pembenahan candi termasuk
batasan-batasan terkait penetapan zone-zone disekitar candi. Namun demikian,
dalam suatu kesempatan wawancara dengan pihak kementrian budaya, mereka
menyatakan kekaguman terhadap candi Borobudur terutama karena wisatawan juga
diajak mengikuti pemutaran film tentang Borobudur.
Namun sekali lagi, perlu
lebih dari sekedar penyediaan informasi untuk mengelola sebuah situs budaya.
Predikat ‘world heritage’ membutuhkan komitmen berkelanjutan untuk menjaga dan
merawat peninggalan budaya tersebut. Jika pengelolaan situs dimaksudkan
sebagai community-based, masyarakat yang bermukim disekitar situs
harus dilibatkan aktif dalam upaya menjaga warisan budaya ini. Sebagai orang
Indonesia yang hidup di bumi Indonesia, warisan budaya, apapun latar belakang
‘keagamaan’ yang mungkin mewarnai keberadaan sebuah situs, adalah tetap
merupakan identitas bangsa ini, bagian dari diri kita sendiri. Hanya dengan keberadaannya
yang fenomenal saja- tanpa disertai upaya-upaya pengelolaan yang baik oleh
semua pihak, Borobudur bisa jadi end up hanya sebagai salah
satu destinasi tanpa keistimewaan yang seharusnya menyertai Borobudur hingga
sekian generasi bangsa ini selanjutnya.
Kekhasan patung Buddha Khmer
yang terkenal dengan senyumannya –the smile of Khmer- bisa dilihat dari segala
sudut Angkor. Apresiasi tinggi dan pengelolaan yang tepat terhadap warisan
budaya tampaknya juga akan mampu membentuk senyum khas Khmer bagi masyarakat
Kamboja hari ini.
Australia Sumbang AUS$ 1 Juta untuk Konservasi Angkor Wat
Angkor
Wat sebagai salah satu Situs Warisan Dunia telah ramai dikunjungi turis. Untuk
terus menjaga kelestarian situs ini, Pemerintah Australia pun memberikan donasi
hampir AUS$ 1 juta
untuk menjaga kelestariannya.
Dari situs berita smh.com.au pada Senin (26/3/2012), pemerintah Australia memberikan donasi untuk ikut serta menjaga kelestarian Angkor Wat. Jumlah donasi yang diberikan untuk situs sejarah Kamboja ini pun cukup besar, hampir AUS$ 1 juta atau sekitar Rp 9,7 miliar.
Menteri luar negeri Australia, Bob Carr mengumumkan pemberian donasi saat perjalanan ke negara Asia Tenggara pada Senin (26/3).
"Kami memberikan donasi hampir AUS$ 1 juta untuk rencana perlindungan situs sejarah dunia, Angkor Wat. Ini untuk menghindari terjadinya tragedi penginjakan sesama pengunjung yang bisa sampai pada kematian, karena jumlah pengunjung yang datang meningkat menjadi 20.000 per hari," kata Carr pada situs smh.com.au.
Komplek situs Angkor, yang masing-masing wilayahnya kurang lebih berumur 700 tahun, terdiri dari 3 bagian. Bagian tersebut adalah Angkor Thom, Angkor Wat dan Kuil Bayon.
Saat ini, jutaan turis datang mengunjungi situs Agkor Wat setiap tahun. Hal ini pun memunculkan kekhawatiran akan adanya kerusakan pada beberapa bagian Angkor. Diharapkan, donasi dari Australia akan mencegah hal-hal negatif yang mungkin terjadi pada situs sejarah tersebut.
Dari situs berita smh.com.au pada Senin (26/3/2012), pemerintah Australia memberikan donasi untuk ikut serta menjaga kelestarian Angkor Wat. Jumlah donasi yang diberikan untuk situs sejarah Kamboja ini pun cukup besar, hampir AUS$ 1 juta atau sekitar Rp 9,7 miliar.
Menteri luar negeri Australia, Bob Carr mengumumkan pemberian donasi saat perjalanan ke negara Asia Tenggara pada Senin (26/3).
"Kami memberikan donasi hampir AUS$ 1 juta untuk rencana perlindungan situs sejarah dunia, Angkor Wat. Ini untuk menghindari terjadinya tragedi penginjakan sesama pengunjung yang bisa sampai pada kematian, karena jumlah pengunjung yang datang meningkat menjadi 20.000 per hari," kata Carr pada situs smh.com.au.
Komplek situs Angkor, yang masing-masing wilayahnya kurang lebih berumur 700 tahun, terdiri dari 3 bagian. Bagian tersebut adalah Angkor Thom, Angkor Wat dan Kuil Bayon.
Saat ini, jutaan turis datang mengunjungi situs Agkor Wat setiap tahun. Hal ini pun memunculkan kekhawatiran akan adanya kerusakan pada beberapa bagian Angkor. Diharapkan, donasi dari Australia akan mencegah hal-hal negatif yang mungkin terjadi pada situs sejarah tersebut.
Source :




