Minggu, 04 November 2012

DAMPAK PEMBANGUNAN ARSITEKTUR


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Dari waktu ke waktu, perkembangan arsitektur semakin pesat dan kompleks. Hal ini terlihat dari ada dan berkembangnya arsitektur baik dari fungsi , estetis, maupun strukturnya.
            Perkembangan arsitektur selalu menuju progres yang lebih baik dari sebelumnya, akan tetapi seiring dengan itu juga akan selalu ada sebuah dampak, baik positif ataupun negatif.
            Hal yang melatar belakangi tulisan ini yakni banyaknya sebuah karya arsitektur yang sia – sia dan tidak terfungsikan dengan baik pasca karya arsitektur mulai dihuni.
Seorang arsitek diwajibkan mampu menganalisa suatu kondisi yang sedang terjadi dalam proyek yang sedang dilaksanakannya. Perlunya mempertimbangkan keadaan alam yang semakin hari semakin terbatas dalam segi lahan dan aspek sosial serta pertimbangan terhadap pengaruh lingkungan menjadi perhatian utama sang arsitek untuk mencari solusi dari semua keadaan untuk mencapai hasil desain yang dapat diterima dari berbagai pihak tanpa mengurangi resiko desain terhadap bangunan lingkup sekitarnya.
Tujuan
Tujuan dari tulisan ini adalah bangunan yang sudah dibangun dapat difungsikan dengan baik dan efektif.







BAB II
TINJAUAN TEORI
Evaluasi Pasca Huni didasari keinginan untuk mengetahui dampak dari desain arsitektur bangunan dalam beberapa periode tahun pembangunannya terhadap penghuninya. Hal ini penting untuk mengetahui performa bangunan yang termasuk didalamnya fungsi dan ketersediaannya fasilitas. Evaluasi pasca huni pada rusunawa di DKI Jakarta adalah untuk mengetahui persepsi penghuni terhadap perkembangan performa desain arsitektur bangunan rusunawa berdasarkan beberapa periode pembangunan. Hasil evaluasi dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk memperbaiki desain rusunawa masa yang akan datang.
Membangun ketahanan adalah kemampuan bangunan untuk terus berfungsi dan beroperasi di bawah kondisi ekstrim, seperti (tetapi tidak terbatas pada) suhu ekstrim, kenaikan permukaan laut, bencana alam, dll Seperti lingkungan binaan menghadapi efek yang akan datang dari perubahan iklim global , pemilik bangunan, desainer, dan pembangun dapat merancang fasilitas untuk ketahanan bangunan mengoptimalkan.
Membangun beradaptasi adalah kapasitas bangunan yang akan digunakan untuk menggunakan beberapa dan dalam berbagai cara sepanjang umur bangunan. Sebagai contoh, merancang sebuah bangunan dengan dinding bergerak / partisi memungkinkan user yang berbeda untuk mengubah ruang. Selain itu, menggunakan desain yang berkelanjutan memungkinkan untuk membangun untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dan kondisi.
             Tujuan dari evaluasi pasca huni untuk :
·         Menghasilkan dasar pertimbangan terhadap desain arsitektur bangunan rumah susun yang sesuai dengan standar pembangunan gedung, kenyamanan penghuni dan optimasi biaya pengelolaan.
·         Meminimalkan permasalahan dan kekeliruan dalam perancangan, sehingga desain dan penggunaan bahan bangunan yang dihasilkan pada masa yang akan datang menjadi lebih baik.
Identifikasi masalah yang dilakukan berdasarkan pengamatan awal terhadap arsitektur bangunan antara lain:
1.      Permasalahan besaran ruang
2.      Permasalahan jenis bahan dan material.
3.      Permasalahan kebutuhan jenis ruang



BAB III
METODOLOGI
Membuat bangunan berkelanjutan dimulai dengan :
o   Pemilihan lokasi yang tepat,
termasuk pertimbangan penggunaan kembali atau rehabilitasi bangunan yang ada.
Lokasi, orientasi, dan lansekap sebuah bangunan mempengaruhi ekosistem lokal, metode transportasi, dan penggunaan energi.
o   Penempatan untuk keamanan fisik merupakan isu penting dalam mengoptimalkan desain, termasuk lokasi jalan akses, parkir, hambatan kendaraan, dan lampu perimeter.
Hal – hal penting yang harus diperhatikan :
·         Optimalisasi sumber energi,
Untuk mengurangi beban, meningkatkan efisiensi, dan memanfaatkan sumber daya
energi terbarukan di fasilitas federal.

·         Penghematan air
Sebuah bangunan yang berkelanjutan harus mengurangi, mengontrol, dan mengobati limpasan situs, penggunaan air secara efisien, dan penggunaan kembali atau daur ulang air untuk digunakan di tempat.

·         Penggunaan material yang ramah lingkungan
Sebuah bangunan yang berkelanjutan dibuat dari bahan yang meminimalkan dampak siklus kehidupan lingkungan seperti pemanasan global, penipisan sumber daya, dan toksisitas manusia. Lingkungan bahan disukai memiliki efek mengurangi terhadap kesehatan manusia dan lingkungan dan berkontribusi untuk meningkatkan keselamatan pekerja dan kesehatan, kewajiban mengurangi, biaya pembuangan dikurangi, dan pencapaian tujuan lingkungan.












BAB IV

STUDI KASUS


Ada sebuah contoh dampak dari pembangunan arsitektur yaitu :

Hotel Ryugyong Pyong-yang Korea Utara, hotel yang tidak terselesaikan.


BAB V
PEMBAHASAN
Hotel Ryugyong  adalah menara pencakar langit yang pembangunannya masih berlanjut setelah sempat terhenti pada tahun 1992 karena mengalami kekurangan listrik, krisis pangan, dan kesulitan pembiayaan yang dialami oleh Pemerintah Korea Utara. Menara ini akan dijadikan hotel di Sojang-dong, di Distrik Potong-gang, Pyongyang, Korea Utara. Nama hotel ini berasal dari nama bersejarah Pyongyang: Ryugyong. Hotel ini direncanakan bakal memiliki 105 lantai dengan tinggi 330 meter.
Setelah terhenti selama 16 tahun (sejak tahun 1992), Hotel Ryugyong dilanjutkan kembali oleh Orascom Group yang berasal dariMesir Pada September 2008 diumumkan kalau proyek Hotel Ryugyong akan selesai pada tahun 2012, bersamaan dengan ulang tahun ke-100 kelahiran "Presiden Abadi" Kim Il Sung.

Di bawah kepemimpinan Kim Jong-il dan ayahnya Kim il-sung, Korea Utara telah menjadi terisolasi, nasionalistik, dan totaliter. Meskipun menjadi salah satu dari negara termiskin di dunia, negara komunis melihat bahwa pencapaiannya dapat membuatnya populer di mata dunia. Rakyatnya tidak mengetahui apapun tentang bangsa lain kecuali negaranya sendirilah yang benar-benar hebat.
Korea utara menjadi negara paling tertutup sebab siapapun yang berhubungan dengan orang asing dapat dipenjarakan atau lebih buruk lagi. Tetapi ada hal memalukan yang sulit untuk disembunyikan karena besarnya; yaitu Hotel Ryugyong yang bobrok karena


mengalami kegagalan tehnik dan kosong di Distrik Potong Pyongyang yang merupakan ibu kota Korea Utara.
Cerita tentang hotel tersebut berawal pada tahun 1987, ketika pemerintah Korea Utara memulai pembangunan hotel yang diperkirakan menghabiskan dana 750 juta dolar atau 2 persen dari pendapatan bruto negara itu. Sebagai perbandingan, 2 persen dari pendapatan bruto Amerika adalah 220 miliar dolar. Pembangunan hotel tersebut adalah perang dingin terhadap gedung pencakar langit milik Korea Selatan yaitu Hotel Stamford di Singapura. Korea Utara berharap proyek tersebut akan mendatangkan penanam modal ke negara itu. Korea Utara sangat bangga akan proyek itu sampai-sampai mereka menambahkannya ke peta sebelum proyek itu dimulai dan mengeluarkan prangko bertema hotel tersebut sebelum hotel itu setengah jadi.
Hotel tersebut setinggi 330 meter dan rencananya akan memiliki 3000 kamar dan 7 restoran dengan total luas lantai 1,1 juta meter persegi. Hotel tersebut akan menjadi bangunan tertinggi ketujuh di dunia dan bangunan bertingkat lebih dari seratus di luar New York dan Chicago, "apabila selesai".
Acara pertama yang dijadwalkan diselenggarakan di hotel tersebut adalah Pertemuan Pemuda dan Pelajar sedunia. Tetapi acara tersebut diliputi dengan banyak masalah terutama masalah pendanaan dan tidak memadainya suplai listrik ke hotel itu. Setelah itu pembangunan hotel tidak dilanjutkan; dan proyek tersebut ditinggalkan.
Bagian luar hotel tersebut selesai tapi tidak aman untuk dihuni. Campuran semen yang encer telah membuat bangunan tersebut miring sehingga tidak bisa diselesaikan tanpa pembongkaran besar-besaran.
Pemerintah Korea Utara masih mencari pemodal asing dengan harapan mendapatkan sekitar 300 juta dolar. Tentu saja sangat sulit mendapatkannya mengingat Korea Utara memiliki kebijakan yang ketat terhadap kedatangan orang asing. Bahkan wisatawanpun hanya dibatasi sekitar 130 ribu orang setahun dan hampir tidak ada yang datang ke Pyongyang. Untuk membuat keadaan lebih buruk, negara tersebut menerapkan kebijakan bersepeda bagi semua orang yang tentu saja tidak sesuai untuk pengoperasian hotel bintang lima.







BAB VI
PENUTUP
KESIMPULAN
            Dari studi kasus diatas dapat disimpulkan bahwa banyak sekali bangunan – bangunan yang kurang berfungsi dengan baik dan tidak efektif. Tentu saja hal semacam ini memberikan dampak yang sangat besar dalam banyak aspek.
SARAN
            Lewat tulisan ini ingin saya sampaikan bahwa sebuah proyek besar harusnya tidak didasari dengan egoisme yang tinggi dan hanya mementingkan pencitraan semata, karena apabila proyek tersebut mengalami permasalahan atau mungkin kegagalan maka akan sia – sia saja selama ini proyek berjalan, bukan citra baik yang didapat malah akan mendapat citra yang buruk.

SUMBER :

 http://www.angzcommerz.com/product-blog/dampak-pembangunan-rumah-tanpa-melibatkan-pemikiran-seorang-arsitek

Tidak ada komentar:

Posting Komentar