Minggu, 04 November 2012

Masalah - Masalah Pembanguna Arsitektur

Hotel Ryugyong  adalah menara pencakar langit yang pembangunannya masih berlanjut setelah sempat terhenti pada tahun 1992 karena mengalami kekurangan listrik, krisis pangan, dan kesulitan pembiayaan yang dialami oleh Pemerintah Korea Utara. Menara ini akan dijadikan hotel di Sojang-dong, di Distrik Potong-gang, Pyongyang, Korea Utara. Nama hotel ini berasal dari nama bersejarah Pyongyang: Ryugyong. Hotel ini direncanakan bakal memiliki 105 lantai dengan tinggi 330 meter.
Setelah terhenti selama 16 tahun (sejak tahun 1992), Hotel Ryugyong dilanjutkan kembali oleh Orascom Group yang berasal dariMesir Pada September 2008 diumumkan kalau proyek Hotel Ryugyong akan selesai pada tahun 2012, bersamaan dengan ulang tahun ke-100 kelahiran "Presiden Abadi" Kim Il Sung.

Di bawah kepemimpinan Kim Jong-il dan ayahnya Kim il-sung, Korea Utara telah menjadi terisolasi, nasionalistik, dan totaliter. Meskipun menjadi salah satu dari negara termiskin di dunia, negara komunis melihat bahwa pencapaiannya dapat membuatnya populer di mata dunia. Rakyatnya tidak mengetahui apapun tentang bangsa lain kecuali negaranya sendirilah yang benar-benar hebat.
Korea utara menjadi negara paling tertutup sebab siapapun yang berhubungan dengan orang asing dapat dipenjarakan atau lebih buruk lagi. Tetapi ada hal memalukan yang sulit untuk disembunyikan karena besarnya; yaitu Hotel Ryugyong yang bobrok karena


mengalami kegagalan tehnik dan kosong di Distrik Potong Pyongyang yang merupakan ibu kota Korea Utara.
Cerita tentang hotel tersebut berawal pada tahun 1987, ketika pemerintah Korea Utara memulai pembangunan hotel yang diperkirakan menghabiskan dana 750 juta dolar atau 2 persen dari pendapatan bruto negara itu. Sebagai perbandingan, 2 persen dari pendapatan bruto Amerika adalah 220 miliar dolar. Pembangunan hotel tersebut adalah perang dingin terhadap gedung pencakar langit milik Korea Selatan yaitu Hotel Stamford di Singapura. Korea Utara berharap proyek tersebut akan mendatangkan penanam modal ke negara itu. Korea Utara sangat bangga akan proyek itu sampai-sampai mereka menambahkannya ke peta sebelum proyek itu dimulai dan mengeluarkan prangko bertema hotel tersebut sebelum hotel itu setengah jadi.
Hotel tersebut setinggi 330 meter dan rencananya akan memiliki 3000 kamar dan 7 restoran dengan total luas lantai 1,1 juta meter persegi. Hotel tersebut akan menjadi bangunan tertinggi ketujuh di dunia dan bangunan bertingkat lebih dari seratus di luar New York dan Chicago, "apabila selesai".
Acara pertama yang dijadwalkan diselenggarakan di hotel tersebut adalah Pertemuan Pemuda dan Pelajar sedunia. Tetapi acara tersebut diliputi dengan banyak masalah terutama masalah pendanaan dan tidak memadainya suplai listrik ke hotel itu. Setelah itu pembangunan hotel tidak dilanjutkan; dan proyek tersebut ditinggalkan.
Bagian luar hotel tersebut selesai tapi tidak aman untuk dihuni. Campuran semen yang encer telah membuat bangunan tersebut miring sehingga tidak bisa diselesaikan tanpa pembongkaran besar-besaran.
Pemerintah Korea Utara masih mencari pemodal asing dengan harapan mendapatkan sekitar 300 juta dolar. Tentu saja sangat sulit mendapatkannya mengingat Korea Utara memiliki kebijakan yang ketat terhadap kedatangan orang asing. Bahkan wisatawanpun hanya dibatasi sekitar 130 ribu orang setahun dan hampir tidak ada yang datang ke Pyongyang. Untuk membuat keadaan lebih buruk, negara tersebut menerapkan kebijakan bersepeda bagi semua orang yang tentu saja tidak sesuai untuk pengoperasian hotel bintang lima.

SUMBER : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Hotel_Ryugyong
http://selaras.web44.net/hotel.php

Tidak ada komentar:

Posting Komentar